BMKG : Jangan Percaya Prediksi Gempa

Selasa, 02 Februari 2021 - 10:46 WIB
BMKG : Jangan Percaya Prediksi Gempa
BMKG : Jangan Percaya Prediksi Gempa

TatarSukabumi.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) imbau masyarakat untuk tidak mempercayai prediksi gempa bumi maupun gempa susulan dengan menetapkan waktu serta kekuatan gempa yang akan terjadi.

Sebelumnya, warga sempat resah atas beredarnya kabar di sosial media akan potensi gempa susulan dari gempa berkekuatan magnitudo 4,4 yang terjadi pada Minggu ( 31/01/2021) pukul 20.11 WITA di wilayah Majene dan Mamuju Sulawesi Barat.

Isu yang berkembang, dengan menggunakan tehnik tertentu ada potensi gempa susulan berkekuatan M 4.9 dengan titik pusat Mamuju pada pukul 5.30 sampai pukul 7.30 WIB dan pukul 13 WIB esok harinya.

BACA JUGA : Selain Terima BOS Reguler 257 Sekolah di Sukabumi Terima BOS Afirmasi dan Kinerja 2020

Menanggapi hal tersebut, Koordinator Mitigasi Gempabumi dan Tsunami pada BMKG, Daryono kepada TatarSukabumi.ID menyatakan, untuk tidak mempercayai prediksi gempa yang akan terjadi.

"Siapapun dia pembuat prediksi dan apapun metodenya. Hingga saat ini belum ada sains dan teknologi yang dapat didedikasikan untuk memprediksi dengan tepat dan akurat, kapan dan dimana serta berapa kekuatan (magnitudo) gempa akan terjadi," terang Daryono, Senin (1/2/2021) tadi malam.

Lebih jauh menurutnya, jika memang telah ada sains prediksi gempa yang akurat, maka lembaga riset dan lembaga operasional monitoring gempa di berbagai negara rawan gempa telah menggunakannya terlebih dahulu untuk menyelamatkan rakyatnya.

"Jika memang sudah ada metode prediksi gempa yang akurat, maka negara yang lebih maju riset gempanya, tentu sudah tahu terlebih dahulu untuk kemudian menggunakan metode prediksi itu," tegas Daryono.

BACA JUGA : Cuaca Ekstrem Hingga Tumpukan Sampah di Pantai Ujunggenteng Sukabumi

Hingga saat ini, Daryono memastikan belum ada metode prediksi gempa yang tepat dan akurat.

"Jika masih dalam kegiatan riset atau kajian, silakan saja dishare untuk kebutuhan internal peneliti, tentu kami sangat mendukungnya.

"Tetapi tidak untuk diumumkan ke publik atau dishare di media sosial, kecuali memang ingin berhadapan dengan pihak yang berwajib karena telah membuat resah masyarakat dan membuat berita bohong (hoax)." tegasnya.(*)

SUKABUMI TERKINI