Potret Suram Keluarga Penghuni Gubuk Tua Pinggiran Hutan Jampangtengah Sukabumi

Senin, 20 Juli 2020 - 13:26 WIB
Potret Suram Keluarga Penghuni Gubuk Tua Pinggiran Hutan Jampangtengah Sukabumi
Potret Suram Keluarga Penghuni Gubuk Tua Pinggiran Hutan Jampangtengah Sukabumi
Banner Dalam Artikel

TatarSukabumi.ID - Hidup di bawah garis kemiskinan, Darjat bersama keluarga huni bangunan gubuk tua bekas gudang kebun pinggiran hutan jauh dari pemukiman penduduk di Kampung Naringgul, Desa/ Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Gubuk tua dengan material bangunan limbah kayu bekas bongkaran yang hanya berukuran lebar 2, 5 meter dan panjang 6 meter ini, di diami Darjat pria berusia 54 tahun bersama istrinya Tiah 34 tahun serta tiga orang anak, Rafli 17 tahun, Misnah 11 tahun, dan si bungsu Suci usia 4 tahun.

Saat ini Istri Darjat tengah mengandung anak ke-4, Darjat yang hanya lulusan Sekolah Dasar mengaku membeli gubuk ini 2 tahun lalu seharga 2, 5 juta rupiah.

“Dulu ini dibeli dari orang, seharga 2,5 juta berikut KWH listriknya," aku Darjat saat disambangi di gubuk-nya, Minggu (19/7/2020).

BACA JUGA : Menakar Kemenangan Koalisi Bersih di Pilkada Sukabumi 2020

Aliran listrik gubuk, hanya dipakai untuk penerang di malam hari, kabel listrik membentang kurang lebih 500 meter dari gardu KWH menumpang di rumah kerabatnya.

Terkadang, aliran listrik gubuk kerap padam, akibat kabel yang putus bila tertimpa dahan ranting terutama disaat musim hujan.

"KWH listrik dipasang di rumah kerabat, kalau malam kadang padam karena kabel tertimpa dahan ranting atau pohon tumbang," tutur Darjat.

BACA JUGA : Polisi RW Polres Sukabumi Kota Sukses Sita 2316 Botol Barang Haram Miras

Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, Datar memikul gula aren dari kampung ke kampung berjalan kaki puluhan kilometer menjajakan barang dagangannya.

Gula yang di jual merupakan olahan tangan Darjat, bahan baku gula diambil dari sari pohon aren yang tumbuh liar di kawasan lahan Perhutani.

Proses pengolahan aren menjadi Gula membutuhkan waktu sekitar 2 hari, Darjat menjual balok gula aren tidak dengan sistem kilo namun sistem balok (batangan) seharga 6 ribu rupiah per-balok.

"Dalam sehari jual gula aren, bisa laku seharga 20 ribu paling banter dapat 50 ribu rupiah. Uangnya untuk kebutuhan sehari hari ditambah penghasilan berkebun di lahan kosong milik Perhutani," jelasnya.

BACA JUGA : Keluar Cairan Feses Dari Bekas Operasi, Serikat Buruh SPN Geruduk Rumah Sakit Sekarwangi Cibadak Sukabumi

Anak bungsu Darjat, saat ini duduk di bangku kelas 6 SDN Pasirangin, yang harus berangkat pagi buta sebelum jam 6 pagi agar tidak telat masuk Sekolah.

Satu keluhan dirasakan Darjat, sejak anak bungsunya berusia 4 tahun pengurusan Kartu Keluarga dan dokumen administrasi kependudukan tidak kunjung selesai.

"Sejak si bungsu lahir 4 tahun, mau urus akte lahir dan rubah kartu keluarga hingga saat ini belum dikeluarkan oleh pemerintah Desa Jampangtengah, dokumen tidak bisa di urus alasannya surat pindah dari Desa Bojongjengkol ke Desa Jampangtengah, hilang di kantor Desa Jampangtengah," keluh Dia.

Potret suram yang dialami keluarga Darjat penghuni gubuk yang jauh dari kata layak huni dengan segala keterbatasannya merupakan satu dari sekian banyak potret kehidupan masyarakat Sukabumi yang sepatutnya mendapat perhatian khusus dari pemerintah.(*)