Kendala Pencarian Korban Tenggelam di Palabuhanratu Sukabumi

Senin, 15 Juni 2020 - 12:12 WIB
Kendala Pencarian Korban Tenggelam di Palabuhanratu Sukabumi
Kendala Pencarian Korban Tenggelam di Palabuhanratu Sukabumi

TatarSukabumi.ID - Pencarian hari ketiga  korban tenggelam di Pantai Laut Selatan Palabuhanratu kembali dilakukan Tim SAR gabungan, Senin (15/6/2020).


Korban merupakan Ebi Nugraha (24) wisatawan asal Kampung Tangkil RT.02/ RW 08 Desa Sukamekar, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Korban dilaporkan hilang sejak Sabtu (13/6) di Pantai Karanghawu, Kecamatan Cisolok Sukabumi.

BACA JUGA : Aplikasi Ojek Online Anterin Hadir di Sukabumi Bebas Pilih Driver Ongkos Bisa Nego, Ada Lowongan Kerja Juga

Kepala Seksi Pemberdayaan Satlinmas Satpol PP Kabupaten Sukabumi, Okih Fajri kepada TatarSukabumi.ID mengatakan, pencarian hari kedua kemarin masih nihil belum ada tanda tanda korban.

Pencarian dilakukan di perairan maupun daratan menyisir pesisisr pantai mulai titik tempat kejadian musibah ( TKM)  sampai radius beberapa Kilometer yang dilakukan berbagai unsur Tim SAR gabungan, relawan, nelayan dan warga setempat.

"Pencarian hari Minggu kemarin masih nihil, hari ini kita gelar kembali, di hari ketiga biasanya jasad mulai mengambang.

"Semoga tidak terhalang sesuatu, pasalnya di TKM banyak karang berrongga" ujar Okih, Senin (15/06).

BACA JUGA :PSBB Parsial Sukabumi Diperpanjang Objek Wisata Ditutup, Faktanya Palabuhanratu Diserbu Wisatawan

Ditempat terpisah Kepala Operasi dan Sumber Daya Manusia (SDM) Balawista Kabupaten Sukabumi, Asep Edom Saepuloh, terjadinya kecelakaan laut salah satunya dipicu akibat pengunjung yang tidak mengindahkan imbauan petugas life guard (penjaga pantai) serta minimnya rambu rambu peringatan di sekitar pantai.

"Sebenarnya penyebab insiden kecelakaan masih banyak PR, upaya rekan - rekan (life guard) sudah cukup maksimal melakukan pertolongan dengan jumlah yang cukup banyak, lebih dari 20 wisatawan yang terselamatkan dari hari pertama, meski peralatan yang kami miliki masih sangat terbatas, untuk upaya pertolongan," jelas Edom.

"Selanjutnya rambu rambu yang harusnya dipasilitasi pemerintah sangat terbatas di titik titik rawan, sebagai contoh di tempat kejadian kemarin itu tidak ada rambu terpasang. Kami berupaya akan patungan bikin rambu, karena itu yang membantu kami karena keterbatasan anggota jaga, dengan jumlah pengunjung yang banyak, mungkin dengan ada nya rambu yang akan kami pasang bisa membantu memperingatkan pengunjung," jelas Edom.

"Dengan prinsip mata elang hati garuda, jadi mata selalu waspada dan hati selalu melapangkan dada dengan kondisi apapun kita harus terima, meski kesejahteraan buat kami dilapangan sampai saat ini belum ada kabar yang jelas." tandasnya.(*)